Petaka bagian 1
Dimulai dari awal, awal yang menjerumuskan ke penyesalan hidup yang kian hari kian menghantui. Menyelimuti jiwa yang awalnya sudah rusak kian rusak. Remuk bagaikan remahan kerupuk yang sudah terlanjur terpuruk.
Hari itu merupakan titik dimana semuanya berubah. Tahun 2017 merupakan tahun dimana saya memasuki pendewasaan diri dari seorang remaja yang siap untuk memasuki fase pendewasaan. Layaknya remaja lainnya, berpikir bahwa perkuliahan merupakan ranah yang asik tanpa beban. Saya berkenalan dengan beberapa manusia, dan mulai dekat dengan manusia-manusia baru itu.
Yang semulanya berpikir bahwa manusia-manusia ini tidak sepemikiran dan sefrekuensi, ternyata saya salah. Mereka seperti manusia-manusia yang sudah terlanjur dekat seperti manusia yang sudah saya kenali terlebih dahulu. Seru, bagaikan deru ombak yang kian berpacu dibibir pantai, begitupun dengan semangat saya berteman dengan manusia-manusia ini.
Kian hari kian dekat, kian hari kian hangat. Banyak manusia lain yang terbakar akan kedekatan saya dengan manusia-manusia ini. Hubungan saya dengan manusia-manusia ini bagaikan anjing dengan majikannya, patuh dan tak terpisahkan. Tapi, sebagai manusia pun saya terlena dengan tipu muslihat mereka.
Suatu ketika, sore hari tepatnya. Langit mendung menurunkan air kesedihan yang tak terbendung, menyelimuti jiwa-jiwa yang tengah berkabung. Serasa begitu pas dengan saya, kian menikmati tetesan air hujan yang menghujam bumi bagaikan kritikan manusia-manusia yang merasa sempurna menghakimi manusia yang tak luput dari dosa. Manusia-manusia ini menghampiri saya, tepatnya dua manusia yang sampai detik ini menjadi alasan saya menjadi manusia yang kian hari kian hitam. Putih dalam jiwa ini perlahan tertutup, dikuasai jiwa-jiwa yang murka akan pengkhianatan.
Mereka bertanya, gerangan apa yang membuat saya keruh. Saya berusaha untuk menutupi, tapi usaha mereka mengalahkan benteng pertahanan saya. Perlahan saya membuka dan mengatakan rahasia yang selama ini saya tutupi. Bagi manusia lain sepele, tapi bagi saya bagaikan menenteng angkasa raya yang terlihat mustahil seorang manusia lakukan.
Mereka terdiam, tapi tidak terkejut. Mereka manut, bagaikan anjing-anjing yang tengah kelaparan mematuhi perintah majikan. Bagaikan tersambar petir dan terombang ambing di tengah samudera. Jiwa yang awalnya kelam akan kesepian dan ingin pengakuan seperti disinari sinar mujizat. Saya merangkul mereka, memasuki mereka sebagai manusia yang paling saya percaya.
(berlanjut..)
Hari itu merupakan titik dimana semuanya berubah. Tahun 2017 merupakan tahun dimana saya memasuki pendewasaan diri dari seorang remaja yang siap untuk memasuki fase pendewasaan. Layaknya remaja lainnya, berpikir bahwa perkuliahan merupakan ranah yang asik tanpa beban. Saya berkenalan dengan beberapa manusia, dan mulai dekat dengan manusia-manusia baru itu.
Yang semulanya berpikir bahwa manusia-manusia ini tidak sepemikiran dan sefrekuensi, ternyata saya salah. Mereka seperti manusia-manusia yang sudah terlanjur dekat seperti manusia yang sudah saya kenali terlebih dahulu. Seru, bagaikan deru ombak yang kian berpacu dibibir pantai, begitupun dengan semangat saya berteman dengan manusia-manusia ini.
Kian hari kian dekat, kian hari kian hangat. Banyak manusia lain yang terbakar akan kedekatan saya dengan manusia-manusia ini. Hubungan saya dengan manusia-manusia ini bagaikan anjing dengan majikannya, patuh dan tak terpisahkan. Tapi, sebagai manusia pun saya terlena dengan tipu muslihat mereka.
Suatu ketika, sore hari tepatnya. Langit mendung menurunkan air kesedihan yang tak terbendung, menyelimuti jiwa-jiwa yang tengah berkabung. Serasa begitu pas dengan saya, kian menikmati tetesan air hujan yang menghujam bumi bagaikan kritikan manusia-manusia yang merasa sempurna menghakimi manusia yang tak luput dari dosa. Manusia-manusia ini menghampiri saya, tepatnya dua manusia yang sampai detik ini menjadi alasan saya menjadi manusia yang kian hari kian hitam. Putih dalam jiwa ini perlahan tertutup, dikuasai jiwa-jiwa yang murka akan pengkhianatan.
Mereka bertanya, gerangan apa yang membuat saya keruh. Saya berusaha untuk menutupi, tapi usaha mereka mengalahkan benteng pertahanan saya. Perlahan saya membuka dan mengatakan rahasia yang selama ini saya tutupi. Bagi manusia lain sepele, tapi bagi saya bagaikan menenteng angkasa raya yang terlihat mustahil seorang manusia lakukan.
Mereka terdiam, tapi tidak terkejut. Mereka manut, bagaikan anjing-anjing yang tengah kelaparan mematuhi perintah majikan. Bagaikan tersambar petir dan terombang ambing di tengah samudera. Jiwa yang awalnya kelam akan kesepian dan ingin pengakuan seperti disinari sinar mujizat. Saya merangkul mereka, memasuki mereka sebagai manusia yang paling saya percaya.
(berlanjut..)
Comments
Post a Comment